Meningkatkan Minat Baca Anak “Suatu Kebutuhan” (Bagian 2)

Meningkatkan Minat Baca Anak “Suatu Kebutuhan” (Bagian 2)

Oleh : Alexander B. Koroh
Alumnus Victoria University of Wellington

 

Pada bagian 1 dari tulisan tentang topic, pada intinya menekankan bahwa agar anak memiliki minat baca yang memadai maka paling kurang ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, orang tua harus memberikan contoh biasa membaca agar anak dapat menirunya. Kedua, sediakan bacaan sesuai umur anak. Ketiga, luangkan waktu untuk pergi ke toko buku bersama anak. Keempat, bahaslah buku yang telah dibaca anak anda. Akan tetapi ketiga hal ini saja belum cukup bila kita ingin mendorong anak agar memiliki minat membaca yang tinggi. Masih menurut lifescript (19/6/2012), ada tiga hal lainnya yang perlu dilakukan sehingga anak dapat memiliki minat baca yang tinggi. Ketiga hal dimaksud adalah, membantu anak mengatur buku-bukunya, ajarkan anak membaca buku dengan menyuarakan tokoh di dalamnya, dan tingkatkan level bacaan anak. Mari kita membahasnya lebih dalam.

3 cara lainya

Membantu anak mengatur buku-bukunya. Hal ini perlu kita lakukan bersama-sama anak, mengingat anak-anak biasanya setelah membaca, mereka membiarkan buku berserakan di mana saja. Oleh karena itu, kita perlu menyampaikan kepada mereka bahwa menaruh dan merapikan kembali buku-buku yang telah dibaca pada tempatnya adalah penting, sehingga selain ruangannya tetap rapi, bila sewaktu-waktu anak membutuhkan buku tertentu maka akan mudah baginya. Termasuk bila ada teman atau saudara yang meminjam buku dimaksud maka dengan segera ia dapat menemukan buku yang diperlukan. Pengaturan buku anak dapat dilaksanakan berdasarkan judul sesuai dengan abjad. Misalnya judul cerita yang diawali dengan huruf A, misalnya, “Anjing yang Setia” diletakkan pada sisi paling kiri rak buku, diikuti oleh judul dengan abjad berikutnya, seperti, “Bajing yang Murah Hati” sebab judulnya didahului dengan huruf B.

Berikutnya, mengajarkan anak membaca buku dengan menyuarakan tokoh di dalamnya. Hal ini memberikan keuntungan pada anak, karena mendorong dia untuk berkreasi dalam menempatkan tekanan dan besar kecilnya suara sesuai dengan tokohnya. Misalnya ketika anak membaca cerita rakyat Rote Ndao tentang ‘Babala Oli’ maka ia akan menyuarakan suara yang berwibawa ketika membaca kalimat yang disampaikan ayah putri Babala Oli, yakni raja Nadalai. Demikian pula ketika ia menyampaikan kalimat-kalimat yang disampaikan oleh neneknya ibunda Babala Oli, maka ia akan menyampaikan suara seorang nenek-nenek yang berat dan sering batuk-batuk karena sudah usur dimakan usia. Hal ini juga bagus, karena anak akan membaca buku dalam keterlibatan emosi yang lebih dalam, dan ia mengetahui secara spesifik tokoh siapa menyuarakan hal apa. Dengan demikian nilai dan kebajikan yang disampaikan dalam cerita akan diingat anak dan menjadi bekal berharga dalam kehidupannya. Contohnya, ketika anak menyuarakan pernyataan raja Nadalai bahwa “Saya baru akan menikah setelah rakyat Rote sejahtera”. Pernyataan yang disuarakan anak ini akan mengajarkan padanya bahwa pemimpin yang baik harus lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya ketimbang kepentingannya sendiri.

Meningkatkan level bacaan anak. Hal ini tak boleh diabaikan. Jika kita mengabaikannya anak dapat kehilangan minat baca, sebab ia menjadi bosan dengan bacaan yang itu-itu saja dan tidak menantang. Tambahan pula, daya intelektual dan imajinasi anak terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kemampuan individualnya. Meningkatkan tingkatan bacaan anak memancing dan mendorongnya untuk naik pada level pemahaman yang lebih berbobot dan tinggi sehingga kecakapan literasi, numerasi, dan kompetensi pemecahan masalahnya juga akan meningkat. 

Hal ini penting, sebab dengan sendirinya memperluas wawasan dan cakrawala berpikir anak, membantunya mengetahui berbagai alternative atau opsi dalam menghadapi suatu situasi dan atau masalah, sehingga sangat mendukungnya dalam belajar di sekolah dan juga untuk menjadi peka dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi komonitasnya. Contohnya, Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, dan Supomo adalah pembaca-pembaca yang hebat, yang karena terus meningkatkan level bacaan mereka, pada akhirnya dapat membawa bangsa ini ke dalam alam kemerdekaan dan membuat konstitusi Indonesia yang hebat, yang dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia hingga saat ini. 

Pembaca budiman, kita bertanggung jawab pada realitas minat baca anak Indonesia sebab hanya bila minat baca mereka rendah, maka sulit rasanya bagi mereka untuk dapat melakukan hal-hal besar untuk kesejahteraan bersama, seluruh anak bangsa. Dengan minat baca yang tinggi, anak-anak akan membaca berbagai buku yang dapat memberikan bekal yang berharga bagi mereka, sehingga bila ada berita-berita sesat yang datang menggoda mereka, mereka dapat menangkalnya krena bekal yang telah diperolehnya melalui membaca buku. Marilah kita tingkatkan terus minat baca anak-anak kita, sebab kejayaan dan keberlangsungan bangsa ini ada di tangan mereka.

You are here