Pancasila : Gagang Kehidupan Bangsa Indonesia

 

Pancasila : Gagang Kehidupan Bangsa Indonesia

 

Oleh : Valeri Guru, S.Sos

(Pranata Humas Dinas Perpustakaan NTT) 

Kupang – NTT, Web

Bila seseorang memasuki sebuah rumah, maka tentu ia harus mendekati pintu dan kegiatan pertama yang secara spontan dilakukan adalah memegang gagang pintu untuk membuka pintu. Jika pintu tersebut dalam keadaan tertutup maka kunci harus segera diambil agar pintu dapat dibuka. 

“Bangsa dan Negara Indonesia bagai sebuah rumah dan Pancasila merupakan gagang pintu di saat seseorang sedang bertandang untuk mengecapi sejuk dan indahnya rumah tersebut. Ada peranan maha penting dari makna dan nilai-nilai Pancasila bagi setiap warga Bangsa Indonesia,” tulis Pater Greg Neonbasu, SVD, PhD dalam prolog Buku Pancasila Lahir di Bumi NTT (Pidato Soekarno di hadapan Sidang BPUPKI 1 Juni 1945) yang diterbitkan Dinas Perpustakaan Provinsi NTT dan telah dilounching pada 17 Agustus 2017 lalu. 

Menurut Pater Greg, Pancasila merupakan gagang kehidupan setiap orang Indonesia, dalam arti Bangsa Indonesia sebagai teks dan Pancasila merupakan konteks. “Itu berarti Pancasila merupakan conditio sine qua non bagi Bangsa Indonesia oleh karena tidak ada Indonesia, jika tidak ada Pancasila,” tegas Pater Greg. 

Pancasila kata Pater Greg, telah membuktikan diri dalam proses dan sejarah perjalanan komunitas Indonesia tersebut, oleh karena Pancasila telah mempersatukan kemajemukan komunitas di se antero wilayah Indonesia. “Setiap warga Indonesia yang ingin mencintai bangsa dan negaranya, maka Pancasila adalah harta karun dari seluruh proses dan sejarah pengalaman bersama Indonesia dalam kesatuan sebagai bangsa dan negara yang berdaulat,” tulis Pater. 

Dijelaskan, Pancasila merupakan sesuatu yang orisinal terlahir dari pusara dan bumi Indonesia. Para pendiri bangsa dan negara sebut Pater greg, telah menyelami pandangan masyarakat nusantara di masa silam, dan di sela-sela kehidupan masa lampau yang telah ditimbuni berbagai peristiwa sejarah yang kelok berliku, mereka merumuskan harta karun Pancasila. “Pancasila inilah yang dapat membedakan pribadi dan jati diri bangsa Indonesia itu, tidak identik dengan jati diri bangsa dan negara lain di seluruh dunia,” tulis Pater Greg Neonbasu. 

Pancasila dalam Perspektig Kristen

Sedangkan Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon dalam artikelnya yang berjudul Pancasila Sumber Inspirasi dan Aspirasi Hidup Damai Bangsa Indonesia (Perspektif Kristes) mengatakan, GMIT memahami Pancasia sebagai dasar/asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Dalam konteks Indonesia yang beragam, Pancasila merupakan jawaban terhadap tantangan bersama rakyat Indonesia di awal berdirinya bangsa ini. Pancasila telah menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia, yang dapat diterima oleh semua pihak. Pancasila dapat menimbulkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa dapat membawa keutuhan NKRI,” tulis Pdt. Mery Kolimon. 

Menurut pandangan Kristen Protestan, lanjut Pdt. Mery Kolimon, tidak ada masalah untuk menerima Pancasila, selama pemahaman tentang kelima sila dari Pancasila tetap terbuka dan Pancasila tidak menjadi doktrin yang tertutup. “Yang harus dihindarkan adalah tasir tunggal terhadap Pancasila yang kemudian menyebabkan terjadinya intoleransi bahkan intimidasi terhadap suara-suara yang berbeda,” kata staf pengajar pada Fakultas Teologi UKAW Kupang. 

 

You are here