Tanggapi komentar

Membaca Buku Sebagai Jendela Dunia

Membaca Buku Sebagai Jendela Dunia

Oleh : Alexander B. Koroh
Alumnus Victoria University of Wellington

 

Ada kalimat yang telah dianggap sebagai maxim yang berbunyi bahwa “Buku adalah jendela dunia”. Kalimat ini mejadi maxim karena mengandung kebenaran atau prinsip dasar, di dalam buku terdapat berbagai macam informasi dan pengetahuan yang dapat diperoleh dan dikuasai pembaca. Karena itu adalah penting untuk mengkritisi dan mendalami makna “Buku adalah jendela dunia” sehingga kita dapat memperoleh hasil yang optimal dengan memanfaatkan buku yang ada.

Seberapa besar, dalam, dan penting informasi dan pengetahuan yang terkandung di dalam sebuah buku, ia baru dapat dipahami, diketahui, dan dapat dipraktekkan setelah dibaca. Dalam hal ini dapat dikatakan buku belum menjadi jendela dunia bila kita belum membaca dan memahaminya, dan selanjutnya dapat mempraktekkan di dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu adalah tidak tepat, bila buku-buku pada perpustakaan keluarga, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan Perpustakaan Nasional, masih tetap baru dan tidak pernah dibuka untuk dibaca. Jika ini terus terjadi meskipun kita dikelilingi ribuan bahkan jutaan buku, tetap saja tidak bermakna jika buku belum dibaca. Dengan kata lain, buku yang di dalamnya mengandung kebenaran dalam bidang tertentu baru bisa diserap oleh setiap orang setelah ia membacanya. Dalam konteks Indonesia misalnya, para founding fathers kita seperti, Bung Karno, Bung Hatta, Prof. Supomo, dan A.A. Maramis, mereka dan kawan-kawannya baru dapat membawa Indonesia kea lam kemerdekaan setelah memahami dengan baik tentang kemerdekaan yang sejatinya adalah hak setiap bangsa di muka bumi ini, karena sesungguhnya, setiap manusia/bangsa adalah sama di hadapan Sang Pencipta. Pengetahuan yang telah dibumikan secara tepat oleh pendiri bangsa kita, tidak jatuh begitu saja dari langit, tetapi melalui perjuangan yang berdarah-darah, termasuk ketekunan dan keteguhan hati mereka dalam melahap berbagai buku bacaan yang mencerahkan dan memperluas cakrawala mereke sebagai pribumi terjajah.

Merujuk pada explanasi di atas terlihat jelas, bahwa membaca buku menjadi jendela dunia bagi mereka, karena dengan membaca buku (dalam bahasa Belanda), Soekarno dan kawan-kawan dapat melihat kemerdekaan yang telah dimiliki bangsa lain, dan kemerdekaan yang menjadi realitas bagi Indonesia, sebagaimana kita nikmati sekarang. Di sini tampak jelas bahwa membaca buku benar-benar menjadi jendela dunia. Seiring dengan ini, dapat dikatakan pula, seseorang yang sedang dalam penjara, dan atau berada sendirian di sebuah pulau, dapat melihat dunia dan mengetahui berbagai kebenaran bila ia membiliki buku dan membacanya dengan tekun. Sebaliknya seseorang yang bebas merdeka tetapi tidak pernah membaca buku, dapat dikatakan sedang terpenjara dalam kepicikan pikirannya sendiri karena tidak dapat melihat dunia yang luas melalui membaca buku, ia dapat disamakan dengan ‘katak di bawah tempurung’. 

Karena membaca adalah jendela dunia, yang darinya kita dapat memperluas cakrawala berpikir kita, tidak saja dalam melihat dunia, tetapi juga dalam memahami berbagai kebenaran, yang bila dipraktekkan dengan tepat, dapat membantu memecahkan berbagai masalah pelih yang sedang dihadapi oleh kita, entah pada level, regional, nasional dan internasional. Artinya dengan membaca buku banyak jendela kebenaran akan terbuka lebar, sehingga memberikan ruang dan peluang yang memadai bagi kita, untuk ikut ambil bagian di dalam membuat kehidupan ini menjadi lebih berkualitas. Suatu kehidupan yang bermartabat, di mana kita saling menghormati, menghargai dan berbagi untuk kesejahteraan individu dan komunitas di seantoro dunia. Hal ini dapat dicapai dengan dimulai dari saudara dan saya membaca buku.

Balas